Sabtu, 27 Desember 2014

Dunia Islam pada masa khalifah Utsman Bin Affan dan Khalifah Ali Bin Abi Tholib

oke untuk post pertama....
kali ini admin akan memposting makalah mengenai khalifah Utsman dan Khalifah Ali.
yukk langsung d liat dan baca.. hahah :D

KATA PENGANTAR
       Kami panjatkan puji syukur kehadirat tuhan yang maha esa yang telah memberi petunjuk dan kemudahan kepada penulis dalam menyelesaikan tugas makalah Kemathla’ul Anwaran III. Materi yang disajikan dalam makalah ini berupa beberapa materi yang bersangkutan dengan Dunia Islam Pada Masa Khalifah utsman Bin Affan dan Khalifah Ali Bin Abi Tholib. Dengan dipresentasikan makalah ini, penulis mengharapkan bisa dipelajari dengan baik dan dapat berfikir kreatif dalam menanggapi isu yang ada di masyarakat. Dengan demikian makalah ini dibuat, semoga makalah ini bermanfaat untuk mengembangkan pengetahuan mahasiswa – mahasiswi universitas Mathla’ul Anwar.




                                                                                                        Ttd                         



                                                                                                        Penyusun  


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................ 1
1.3 Maksud dan Tujuan......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHSAN.................................................................................................... 2
2.1   Proses Pengangkatan Khalifah Utsman Bin Affan....................................... 2
2.2   Kebijakan Dalam Negeri Pada Masa Khalifah Utsman Bin Affan............... 3
2.3   Kebijakan Luar Negeri Pada Masa Khalifah Utsman Bin Affan.................. 5
2.4   Periode Terakhir Khalifah Utsman Bin Affan............................................... 6
2.5   Proses Pengangkatan Khalifah Ali Bin Abi Tholib....................................... 8
2.6   Pemerintahan Khalifah Ali Bin Abi Tholib................................................... 8
2.7   Perang Jamal.................................................................................................. 9
2.8   Perang Siffin................................................................................................ 10
2.9   Tahkim Siffin............................................................................................... 10
2.10 Perpecahan Umat (Syi’ah, Khawarij, dan Pendukung Muawiyah)............. 10
2.11 Terbunuhnya Khalifah Ali Bin Abi Tholib.................................................. 11
BAB III PENUTUP........................................................................................................ 12
3.1 Kesimpulan.................................................................................................... 12
3.2 Kritik dan Saran............................................................................................. 12
3.3 Daftar Pustaka............................................................................................... 13











BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Banyak apa yang kita ketahui adalah apa yang kita dengar dan kita lihat. Dari banyaknya kita mendengar, maka banyak pula kita akan mengetahui isi dunia. Kita mengetahui suatu hal pastinya ada seseorang yang memberitahu baik dengan cara apapun, bercerita, membaca karya seseorang, melihat dan lain sebagainya. Akan menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga dan bahkan tak ternilai harganya apabila kita mempelajari sebuah sejarah. Karena dari sejarah itu kita akan mendapatkan berbagai informasi yang bisa memotifasi kita dalam berjuang dalam kehidupan.
Ir. Soekarno pernah mengingatkan kepada kita dengan wejangan “ JAS MERAH” Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Dari sejarah pula kita mengetahui akibat-akibat yang timbul dari suatu perbuatan baik perbuatan itu buruk atau baik. Terutama kita sebagai mahluk yang hidup setelah para mahluk yang terdahulu, tentunya sangat memerlukan pengetahuan tentang mereka yang telah sukses dalam kehidupannya. Mereka adalah cermin bagi kita untuk panutan umat selanjutnya.
Kholafaur Rosidin adalah para sahabat nabi yang setia mendampingi perjuangan Nabi, mereka menggantikan perjuangan dengan tetap memegang ajaran Nabi Muhammad SAW. Terkhususkan pada makalah ini Kholifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, Pada masa itu mereka mengembangkan peradaban islam sebagai bentuk kemajuan agama islam yang telah dikembangkan kholifah sebelumnya yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Maka kita sebagai umat yang hidup setelah mereka akan mendapatkan jalan lurus apabila mengikuti perjalannya.

1.2 
Rumusan Masalah

     1.      Bagaimana Proses Pengangkatan Khalifah Utsman Bin Affan.?
     2.      Apa saja kebijakan – kebijakan yang dibuat pada masa khalifah Utsman.?
     3.      Bagaimana Proses Pengangkatan Khalifah Ali Bin Abi Tholib.?
    4.      Peristiwa apa saja yang terjadi pada masa khalifah Ali Bin Abi Tholib.? 

1.3 
Maksud dan Tujuan
      Dengan terselesaikannya makalah ini penulis bertujuan untuk memberi wawasan pengetahuan tentang Islam pada masa kalifah Utsman Bin Affan dan Islam pada masa khalifah Ali Bin Abi Tholib. Dan selain dari pada itu kami juga bertujuan untuk memenuhi tugas Kemathla’ul Anwaran III.






BAB II
PEMBAHASAN

Dunia Islam pada khalifah Utsman Bin Affan
2.1  Proses Pengangkatan khalifah Utsman bin Affan
Seperti halnya Umar, Utsman diangkat menjadi khalifah melalui proses pemilihan. Bedanya Umar dipilih langsung sedangkan Utsman diangkat atas penunjukan tidak langsung, yaitu melalui dewan syura atau formatur yang di bentuk oleh Umar menjelang wafat. Khalifah Umar membentuk sebuah komisi yang terdiri dari 6 orang calon, dengan perintah memilih salah seorang dari mereka untuk diangkat menjadi khalifah baru. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abd Ar-Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah. Di samping itu, Abdullah bin Umar dijadikan anggota tetapi ia hanya memiliki hak pilih dan tidak berhak untuk dipilh.
Mekanisme pemilihan khalifah ditentukan sebagai berikut: pertama, yang menjadi khalifah adalah yang dipilih oleh anggota formatur dengan suara terbanyak. Kedua, apabila suara imbang yakni 3:3, Abdullah bin Umar yang berhak menentukannay. Ketiga, apabila campur tangan Abdullah tidak diterima, calon yang dipilih Abd Ar-Rahman bin Auf harus diangkat menjadi khalifah. Kalau masih ada yang menentang, maka penentang itu hendaklah dibunuh.
Anggota yang hawatir terhadap tatacara pemilihan tersebut adalah Ali. Karena ia khawatir terhadap Abd Ar-Rahman tidak bias berlaku adil karena antara Utsman dengan Abd Ar-Rahmanmasih ada hubungan kekerabatan. Akhirnya ali meminta Abd Ar-Rahman berjanji untuk berperilaku adil, tidak memihak, tidak mengikuti kemauan sendiri, tidak mengistimewakan keluarga, dan tidak menyulitkan umat.setelah Abd Ar-Rahman berjanji, ali menyutujuinya.
Kemudian Abd Ar-Rahman meminta pendapat kepada anggota formatur secara terpisah untuk membicarakan calon yang tepat untuk dijadikan khalifah. Hasilnya muncul dua kandidat yaitu Utsman dan Ali. Zubair dan Sa’ad bin Abi Waqqash memilih Utsman, sedangkan Thalhah dan Zubair tidak ditanyai pendapat dandukungannya karena keduanya berada diluar madinah sehingga tidak sempat dihubungi. Kemudian Abd Ar-Rahman bermusyawarah dengan masyarakat dan pembesar di luar anggota formatur. Ternyata suara masyarakat terpecah menjadi dua yaitu kubu Bani Hasyim mendukung Ali dan kubu Bani Umayyah mendukung Utsman. Kemudian Abd Ar-Rahman memanggil Ali dan bertanya, seandainya dia dipilih menjadi khalifah, sanggupkan melaksanakan tugasnya berdasarkan Al-Quran, sunah Rosul, dan kebijakan dua khalifah sebelumya? Ali menjawab, dirinya berharap dapat berbuat sejauh penygetahuan kemampuannya. Abd Ar-Rahman beganti memanggil Utsmandan menanyakan hal yang sama. Utsman menjawab dengan tegas,” ya! Saya sanggup.” Berdasarkan jawaban itu, Abd Ar-Rahman menyatakan Utsman sebagai khalifah ke-3, dan segeralah dilakukan baiat

2.2  Kebijakan dalam negeri khalifah Utsman Bin Affan
Dari segi budaya atau pembangunan
Dari dimensi sosial budaya, ilmu pengetahuan berkembang dengan baik. Pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan erat kaitannya dengan perluasan wilayah Islam. Dengan adanya perluasan wilayah, maka banyak para sahabat yang mendatangi wilayah tersebut dengan tujuan mengajarkan agama Islam. Selain itu, adanya pertukaran pemikiran antara penduduk asli dengan para sahabat juga menjadikan ilmu pengetahuan berkembang dengan baik. Dari segi sosial budaya, Utsman juga membangun mahkamah peradilan. Hal ini merupakan sebuah terobosan, karena sebelumnya peradilan dilakukan di mesjid. Utsman berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid, dan memperluas masjid Nabi di Mekah. Perluasan Mesjid Haram dan Mesjid Nabawi sendiri dilakukan karena semakin bertambah banyaknya umat muslim yang melaksanakan haji setiap tahunnya.
Dari segi pajak, Utsman, sama seperti dari segi baitul maal, melanjutkan perpajakan yang telah ada pada masa Umar. Namun sayangnya, pada masa Utsman pemberlakuan pajak tidak berjalan baik sebagaimana ketika masa Umar. Pada masa Utsman, demi memperlancar ekonomi dalam hal perdagangan, ia banyak melakukan perbaikan fasilitas, seperti perbaikan jalan-jalan dan sebagainya.
Dalam manajemen pemerintahannya Utsman menempatkan beberapa anggota keluarga dekatnya menduduki jabatan publik strategis. Hal ini memicu penilaian ahli sejarah untuk menekankan telah terjadinya proses dan motif nepotisme dalam tindakan Utsman tersebut. Adapun daftar keluarga Utsman dalam pemerintahan yang dimaksud sebagi alasan motif nepotisme tersebut adalah sebagai berikut:
1.   Muawiyah bin Abu Sufyan yang menjabat sebagi gubernur Syam, beliau termasuk shahabat Nabi, keluarga dekat dan satu suku dengan Utsman.
2.   Pimpinan Basyrah, Abu Musa Al Asy’ari, diganti oleh Utsman dengan Abdullah bin Amir, sepupu Utsman.
3.   Pimpinan Kuffah, Sa’ad bin Abi Waqqash, diganti dengan Walid Bin ‘Uqbah, saudara tiri Utsman. Lantas Walid ternyata kurang mampu menjalankan syariat Islam dengan baik akibat minum-minuman keras, maka diganti oleh Sa’id bin ‘Ash. Sa’id sendiri merupakan saudara sepupu Utsman.
4.   Pemimpin Mesir, Amr bin ‘Ash, diganti dengan Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarah, yang masih merupakan saudara seangkat (dalam sumber lain saudara sepersusuan, atau bahkan saudara sepupu) Utsman.
5.   Marwan bin Hakam, sepupu sekaligus ipar Utsman, diangkat menjadi sekretaris Negara.
6.   Khalifah dituduh sebagai koruptor dan nepotis dalam kasus pemberian danakhumus (seperlima harta dari rampasan perang) kepada Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarah, kepada Marwan bin Hakkam, dan juga kepada Harits bin Hakam.
Beberapa penulis Muslim mencoba melakukan rasionalisasi bahwa tindakan Utsman tersebut bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan sebuah upaya pembelaan terhadap tindakan Utsman tidak atau bahkan sama sekali jauh dari motif nepotisme. Sebagai contoh salah satu bentuk rasionalisasi menyebutkan bahwa Utsman mengangkat wali-wali negeri dari pihak keluarga untuk alasan memperkuat wilayah kekuasaannya melalui sisi personal yang telah jelas-jelas dikenal baik karakteristiknya. Hal ini mengingat wilayah kekhilafahan pada masa Utsman bin Affan saat itu semakin meluas. Demikian juga tanggungjawab dakwah dimasing-masing wilayah tersebut.
Dalam Manajemen, mengangkat pekerja berdasarkan kekerabatan bukan hal yang salah. Kemungkinan pengenalan karakteristik anggota keluarga jelas lebih baik dibandingkan melalui seleksi dari luar keluarga. Jika hal tersebut menyangkut kinerja dan harapan ketercapaian tujuan dimasa mendatang jelas pemilihan bawahan dari pihak keluarga tidak bertentangan dengan sebuah aturan apa pun. Artinya secara mendasar nepotisme sendiri bukan merupakan sebuah dosa. Namun demikian kata “nepotisme’ dewasa ini telah mengalami perubahan makna substansial menjadi sebuah istilah yang bermuatan negatif. Bukan hanya bagi Indonesia, namun bagi sejumlah negara “pendekatan kekeluargaan” tersebut telah menempati urutan teratas bagi kategorisasi “dosa-dosa politis” sebuah rezim kekuasaan dewasa ini.
 Penysunan Mushaf Utsmani
Karya monumental Utsman adalah membukukan mushaf Al-Qur’an. Tujuan pemushafan ini adalah untuk mengakhiri perbedaan-perbedaan dalam pembacaan Al-Qur’an di kalangan umat Islam yang diketahui pada saat ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan, perselisihan muncul dikalangan tentara muslim, di mana sebagiannya direkrut dari suriah dan sebagian dari Irak.
Setelah wafatnya khalifah Umar, diangkatlah Usman bin Affan menjadi khalifah ke tiga. Suatu hal yang perlu ditegaskan adalah bahwa di mana pun umat Islam berada dan ke mana pun mereka pergi, namun al-Qur’an tetap menjadi Iman dan pedoman hidup yang utama bagi mereka. Akan tetapi pada masa pemerintahan Usman mulailah tampak gejala-gejala pertikaian antara kaum muslimin mengenai al-Qur’an, karena:
a)      Tidak adanya uniformitas atau keseragaman tentang susunan surat-surat pada naskah-naskah yang mereka miliki.
b)      Tidak adanya uniformitas dalam qiraat atau cara membaca ayat-ayat al-Qur’an.
c)      Tidak adanya uniformitas dalam ejaan tulisan yang mereka pakai dalam menuliskan ayat-ayat al-Qur’an.
Akan tetapi pada masa khalifah Usman ketidakseragaman qiraat telah menimbulkan perpecahan dan merasakan perlu untuk ditertibkan. Orang yang pertama mensinyalir adanya perpecahan adalah sahabat Huzaifah ibnul Yaman. Kemudian Huzaifah melaporkan kepada Usman segera mengambil langkah-langkah untuk mentertibkannya. Usul ini diterima oleh Usman dan Beliau mengambil langkah-langkah antara lain:
1)      Meminjam naskah yang telah ditulis oleh Zaid ibnu Tsabit pada masa Abu Bakar yang disimpan oleh Hafshah binti Umar.
2)      Membentuk panitia yang terdiri dari:
 Zaid ibnu Tsabit
 Abdulloh ibnu Zubair
 Sa’id ibnul Ash
 Abdurrohman ibnuh Harits ibnul Hijam
3)      Usman memberikan tugas pada panitia untuk menyalin dan menurun kembali ayat-ayat al-Qur’an dari lembaran-lembaran naskah Abu Bakar sehingga menjadi mushaf yang lebih sempurna.
4)      Usman memberikan patokan-patokan pada panitia dalam melakukan tugasnya adalah: Dalam menyalin ayat-ayat dari naskah Abu Bakar harus mengecek dan berpedoman pada hafalan para sahabat.
Ayat harus ditulis dengan memakai ejaan tulisan yang seragam. Apabila terjadi perselisihan antar anggota panitia tentang bahasa atau bacaan suatu kata harus ditulis dengan ejaan tulisan yang sesuai dengan lahjah atau dialek Suku Quraisy. Susunan surat hendaklah diatur menurut cara tertentu berdasarkan ijtihad dan pedoman yang didapat dari Rosululloh.
Akhirnya seiringnya waktu para panitia berhasil mengumpulkan dan menghimpun semua al-Qur’an kedalam sebuah mushaf yang dikenal dengan Mushaf Usmani. Sesuai dengan tujuan awal pengumpulan dan penghimpunan ini untuk memepersatukan semua umat islam yang sempat terpecah belah karena adanya perbedaan dalam pembacaan ayat al-Qur’an, maka khalifah Usman memerintahkan kepada semua gubernurnya untuk menghancurkan semua mushaf yang ada ditengah-tengah masyrakat dan digantikan dengan Mushaf Usmani.

2.3  Kebijakan luar negeri khalifah Utsman Bin Affan
Dari segi politik
Pada masa awal pemerintahanya, Utsman melanjutkan sukses para pendahulunya, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam. Kekuasaan Islam telah mencapai asia dan afrika, seperti daerah Herat, Kabul, Ghazni, dan Asia Tengah, juga Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian tersisa dari Persia, dan berhasil menumpas pemberontakan yang dilakukan orang Persia.
Daerah-daerah strategis yang sudah dikuasai oleh Islam seperti Mesir dan Irak terus dilindungi dan dikembangkan dengan melakukan serangkaian ekspedisi militer yang terancang secara cermat. Di Mesir pasukan muslim diinstruksikan untuk memasuki Afrika Utara. Salah satu peristiwa penting disini ialah “Zatis Sawari” (perang tiang kapal). Perang itu terjadi di Laut Tengah dekat dengan Iskandariyah, tentara Romawi dibawah pimpinan Kaisar Constantin dan laskar kaum muslimin dipimpin Abdullah bin Abi Sarah. kenapa dinamakan perang kapal karena banyak kapal-kapal perang yang digunakan dalam perang tersebut. Terdapat 1.000 buah kapal, dan 200 buah kapal milik kaum muslimin sedangkan sisanya milik bangsa Romawi. Pasukan islam berhasil mengusir pasukan lawan. Pasukan Islam bergerak dari kota Basrah untuk menaklukkan sisa wilayah kerajaan Sasan di Irak, dan dari kota Kufah.
Dari segi ekonomi, yaitu tentang pelaksanaan baitul maal, Ustman hanya melanjutkan pelaksanaan yang telah dilakukan pada masa sebelumnya, yaitu Abu Bakar dan Umar. Namun, pada masa Utsman, Ia dianggap telah melakukan korupsi karena terlalu banyak mengambil uang dari baitul maal untuk diberikan kepada kerabat-kerabatnya. Padahal, tujuan dari pemberian uang tersebut karena Utsman ingin menjaga tali silaturahim. Selain itu, disamping dari segi baitul maal, Utsman juga meningkatkan pertanian. Ia memerintahkan untuk menggunakan lahan-lahan yang tak terpakai sebagai lahan pertanian.

2.4 Periode Terakhir Pemerintahan Utsman
Setelah melewati masa-masa gemilang, pada masa paruh terakhir kekuasaanya, Khalifah Utsman menghadapi berbagai pemberontakan dan pembangkangan di dalam negri yang dilakukan oleh orang-orang yang kecewa terhadap tabiat khalifah dan beberapa kebijaksanaan pemerintahannya. Akan tetapi kekacauan sudah dimulai sejak pertama tokoh ini terpilih menjadi khalifah.
Utsman adalah orang yang baik dan saleh namun dalam banyak hal kurang menguntungkan. Karena Utsman terlalu terikat dengan kepentingan-kepentingan orang Mekah, khususnya kaum Quraisy dari kalangan Bani Umayyah. Kemenangan Utsman sekaligus adalah suatu kesempatan yang baik bagi sanak saudaranya dari keluarga besar Bani Umayyah. Utsman berada dalam pengaruh dominasi seperti itu maka satu persatu kedudukan tinggi di duduki oleh anggota keluarganya.
Ketika Utsman mengangkat Marwan bin Hakam, sepupu khalifah yang dituduh sebagai orang yang mementingkan diri sendiri dan suka intrik menjadi sekertaris utama, segeralah timbul mosi tidak percaya dari rakyat. Begitu pula penempatan Muawiyah, Walid bin Uqbah dan Abdullah bin Sa’ad masing-masing menjadi gubernur Suriah, Irak dan Mesir, sangat tidak disukai oleh masyarakat umum di tambah lagi tuduhan-tuduhan bahwa kerabat khalifah mendapat harta pribadi dengan mengorbankan harta umum dan tanah negara. Hakam, ayah Marwan mendapatkan tanah Fadah, Marwan sendiri menyalah gunakan harta baitul mal, Muawiyah mengambil alih tanah Negara Suriah dan khalifah mengizinkan Abdullah untuk mengambil seperlima dari harta rampasan perang.
Situasi politik semakin mencekam bahkan berbagai usaha yang bertujuan baik dan mempunyai alasan yang kuat untuk kemaslahatan umat disalah pahami dan melahirkan perlawanan dari masyarakat. Pemushafan Al-Qur’an misalnya, yang dimaksudkan untuk menyelesaikan kesimpangsiuran bacaan Al-Qur’an sehingga perselisihan mengenai Al-Qur’an dapat dihindari. Tetapi lawan-lawannya Utsman menuduh bahwa Utsman sama sekali tidak memiliki otoritas  untuk menerapkan edisi Al-Qur’an yang di bukukan itu. Dengan kata lain, mereka mendakwa Utsman secara tidak benar telah menggunakan kekuasaan agama yang tidak di milikinya.
Terhadap berbagai kecaman tersebut, Utsman telah berupaya untuk membela diri dan melakukan tindakan politisi sebatas kemampuannya. Tentang pemborosan uang misalnya, Utsman menepis keras tuduhan keji ini. Memeng benar dia membantu saudara-saudaranya dari bani Umayyah, tetapi itu diambil dari kekayaan pribadinya bukan dari kas Negara bahkan Utsman tidak mengambil gajinya yang menjadi haknya. pada saat menjadi khalifah Utsman jatuh miskin. Karena hartanya digunakan untuk membantu sanak familinya, juga karena seluruh waktunya digunakan untuk mengurusi permasalahan kaum muslimin, sehingga tidak ada waktu lagi untuk mengumpulkan harta seperti sebelum menjadi khalifah.
Dalam hal ini Utsman berkata: “pada saat pencapaianku menjadi khalifah, aku adalah pemilik unta dan kambing terbanyak di Arab. Hari ini aku tidak memiliki unta dan kambing kecuali yang digunakan dalam ibadah haji. Terhadap penyokong, Aku memberikan kepada mereka apa pun yang dapat aku berikan dari milikku pribadi. Tentang kekayaan Negara, aku menganggapnya tidak halal, baik bagi diriku sendiri maupun bagi orang lain. Aku tidak mengambil apa pun dari kekayaan Negara, apa yang aku makan adalah hasil nafasku sendiri.
Rasa tidak puas terhadap Khalifah Utsman semakin besar dan menyeluruh. Di Kufah dan Basrah, yang dikuasai oleh Thalhah dan Zubair, rakyat bangkit menentang gubernur yang di angkat oleh khalifah. Hasutan yang lebih keras terjadi di mesir, selain ketidaksetiaan rakyat terhadap Abdullah bin Sa’ad, saudara angkat khalifah, sebagai pengganti gubernur ‘Amr bin Ash juga karena konflik sosial pembagian ghanimah. Pemberontak berhasil mengusir gubernur yang diangkat khalifah, mereka yang terdiri dari 600 orang mesir itu menuju ke madinah. Para pemberontak dari Kufa dan Basrah bertemu dan bergabung dengan kelompok mesir. Wakil-wakil mereka menuntut khalifah untuk mendengarkan keluhan mereka. Khalifah menuruti kemauan mereka dengan mengangkat  Muhammad bin Abu Bakar menjadi gubernur di Mesir. Dam merekapun puas terhadap kebijaksanaan khalifah dan mereka pulang  kenegri masing-masing. Tetapi ditengah perjalanan mereka menemukan surat yang dibawa oleh utusan khusus yang menerangkan bahwa para wakil itu harus dibunuh setelah sampai di Mesir. Menurut mereka surat tersebut ditulis oleh Marwan bin Hakam, sekertaris khalifah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib ingin menyelesaikan persoalan tersebut dengan jalan damai, tetapi mereka tidak dapat menerimanya. Mereka mengepung rumah khalifah, dan membunuhnya ketika Khalifah Utsman sedang membaca Al-Qur’an, pada tahun 35 H/17 juni 656 M. menurut Lewis, pusat oposisi sebenarnya adalah di Madinah sendiri. Di Madinah Thalhah, Zubair dan ‘Amr membuat perlawanan rahasia melawan khalifah, dengan memanfaatkan para pemberontak yang datang ke Madinah untuk melampiaskan rasa dendamnya yang meluap-luap itu.
Menurut Ahmad Al-Usairy dalam bukunya yang berjudul Sejarah Islam, salah satu faktor yang menyebabkan pemberontakan dan pembangkangan adalah berkobarnya fitnah besar di tengah kaum muslimin yang di kobarkan oleh Abdullah bin Saba’, seorang yahudi asal yaman yang berpura-pura masuk islam. Orang ini telah berkeliling ke berbagai kota kemudian menetap di Mesir. Kemudian dia menaburkan keraguan di tengah manusia tentang akidah mereka dan mengecam Utsman dan para gubernurnya. Dia dengan gencar mengajak semua orang untuk menurunkan Utsman dan para gubernurnya. Dengan gencarnya dia mengajak semua orang untuk menurunkan Utsman dan menggantinya dengan Ali sebagai usaha menaburkan fitnah dan perpecahan.
Mulailah pecah fitnah di Kufah pada tahun 34 H/ 654 M. mereka mulai menuntut kepada khalifah untuk menggati gubernur kufah. Akhirnya Utsman menggantinya untuk memenuhi tuntutan mereka dan sebagai uapya untuk meredam fitnahyang lebih besar. Setelah itu ada sejumlah besar manusia yang datang dari kufah, basrah, dan mesir untuk mendebat khalifah. Ali mencegah mereka dan menerangkan apa yang mereka lakukan adalah kesalahan besar. Dan khalifah melakukan pembelaan yang masuk akal. Maka pulanglah mereka dengan tangan hampa.
Abdullah bin Saba’ paham bahwa kesempatanya yang telah ia bangun selama bertahun-tahun akan lenyap begitu saja. Maka ia mencari siasat licik dan mengatur strategi. Dia membuat surat palsu atas nama khalifah akan mengundurkan diri dan Ali akan naik. Disebutkan bahwa siapa saja yang tidak setuju akan dibunuh.

Dunia Islam Pada Masa Khalifah Ali Bin Abi Tholib
2.5 Proses Pengangkatan Khalifah Ali Bin Abi Thalib
 Setelah wafatnya utsman bin Affan karena di bunuh, stabilitas keamanan kota menjadi rawan. Gafiqy bin harb memegang keamanan kota kira-kira selama lima hari sampai terpilihnya Khaliah yang baru. Kemudian Ali bin Abi Thalib menggantikan Utsman, menerima baiat dari sejumlah kaum musim.
 Proses pengukuhan Ali menjadi khalifah tidak semulus pengukuhan tiga orang khalifah sebelumnya. Ali dibai’at di tengah-tengah suasana berkabung atas meninggalnya Utsman bin Affan, pertentangan dan kekacauan, serta kebingungan umat Islam Madinah. Sebab, kaum pemberontak yang membunuh Utsman mendaulat Ali agar bersedia dibai’at menjadi khalifah. Setelah Utsman terbunuh, kaum pemberontak mendatangi para sahabat senior satu persatu yang ada di kota Madinah, seperti Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Umar bin Khaththab agar bersedia menjadi khalifah, namun mereka menolak. Akan tetapi, baik kaum pemberontak maupun kaum Anshar dan Muhajirin lebih menginginkan Ali menjadi khalifah. Ali didatangi beberapa kali oleh kelompok-kelompok tersebut agar bersedia dibai’at menjadi khalifah. Namun, Ali menolak. Sebab, Ali menghendaki agar urusan itu diselesaikan melalui musyawarah dan mendapat persetujuan dari sahabat-sahabat senior terkemuka. Akan tetapi, setelah massa mengemukakan bahwa umat Islam perlu segera mempunyai pemimpin agar tidak terjadi kekacauan yang lebih besar, akhirnya Ali bersedia dibai’at menjadi khalifah.

2.6 Pemerintahan Ali bin Abi Thalib
Tugas pertama yang dilakukan oleh khlifah Ali adalah menghidupkan cita-cita Abu Bakar dan Umar, yakni menarik kembali semua tanah dan hibah yang telah di bagikan oleh Utsman kepada kaum kerabatnya ke dalam kepemilikan Negara. Ali juga segera menurunkan semua gubernur yang tidak di senangi oleh rakyat. Utsman bin Hanif diangkat menjadi penguasa Basrah menggantikan  Ibnu Amir, dan Qais bin Sa’ad dikirim ke Mesir untuk menggantikan gubernur Mesir yang dijabat oleh Abdullah. Gubernur Suriah dan Muawiyah juga di minta untuk meletakkan jabatannya, tetapi ia menolak perintah Ali bahkan tidak mengakui kekhalifahannya.
Oposisi terhadap Khalifah secara terang-terangan dilakukan oleh Aisyah, Thalhah, dan Zubair. Meskipun masing-masing mempunyai alasan pribadi sehubungan dengan penentangan terhadap Ali. Mereka sepakat menuntut khalifah segera mengusut dan menghukum para pembunuh Utsman. Tuntutan yang sama juga diajukan oleh Muawiyah, bahkan ia memanfaatkan peristiwa berdarah untuk menjatuhkan legalitas kekuasaan Ali, dengan membangkitkan kemarahan rakyat dan menuduh Ali sebagai dalang terbunuhnya Utsman, jika Ali tidak dapat menemukan dan menghukum pembunuh yang sesungguhnya.
Akan tetapi tuntutan mereka tidak mungkin dikabulkan Ali. Pertama, karena tugas pertama yang mendesak dalam situasi kritis yang penuh intimidasi seperti saat itu ialah memulihkan ketertiban dan mengonsolidasikan kependudukkan kekhalifahan.
Kedua, menghukum para pembunuh bukanlah perkara yang mudah, khalifah Utsman tidak dibunuh hanya satu orang, melainkan banyak orang dari mesir, irak, dan arab secara langsung terlibat dalam perbuatan tersebut.

2.7 Perang Jamal (36 H/656 M)
Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Syam, tidak membaiat Ali sebagai khalifah. Dia menuntut darah Utsman pada Ali. Sedangkan ali tidak menjadikan masalah ini sebagai perioritas karena kondisinya yang sangat labil. Oleh karenanya orang syam taat pada kekhalifahan Ali dan Muawiyah menyatakan memisahkan diri dari kekhalifahannya. Berangkatlah Ali dengan pasukannya dari kufa, dia telah memindahkan pemerintahan dari madinah ke kufah.
Pada saat itu juga Aisyah bersama Zubair dan Thalhah serta kaum muslimin dari mekah juga menuju bashrah untuk menetap di sana. Merka berhasil menguasai bashrah dan menangkap para pembunuh Utsman. Mereka mengirimkan surat kebeberapa wilayah untuk melakukan hal yang sama. Ali pun mengubah rute perjalanannya dari Syam ke bashrah. Ali mengirimkan beberapa utusan ke pada Aisyah dan menerangkan dampak negatif dari apa yang mereka lakukan. Mereka puas dengan apa yang dikatakan Ali dan mereka kembali ke base pasukan untuk kesepakatan damai.
Kedua belah pihak hampir saja melakukan kesepakatan damai. Namun Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya yang menyimpang mereka ketakutan dan mereka melihat pertempuran harus terjadi. Kembali mereka berhasil mengobarkan api perang di antara kedua pasukan Islam. Terjadilah peperangan ini, pertempuran ini terjadi di depan unta yang membawa tandu Aisyah. Sehingga perang ini di sebut Perang Jamal (perang unta) yang terjadi pada tahun 36 H. dalam pertempuran ini pasukan Bashrah kalah.  Thalhah dan Zubair terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah di kembalikan ke Madinah. Dalam peperangan ini banyak kaum muslimin yang terbunuh. Sebagian sejarawan menyebutkan ada sekitar 10.000 yang terbunuh. Ada sejarawa yang lain menyebutkan sebanyak 20.000 kaum mislimin gugur. Maka sejak itu Bashrah masuk secara penuh dalam pemeritahan ali.
Perang unta ini menjadi sangat penting dalam catatan sejarah Islam, karena peristiwa itu melibatkan sesuatu yang baru dalam Islam, yaitu untuk pertama kalinya seorang khalifah turun kemedan perang untuk memimpin langsung angkatan perang, dan justru bertikai melawan saudara sesama muslim.

2.8 Perang Shifin (wilayah sebelah timur syam) 37 H/657 M
Perang ini terjadi antara Ali dan Muawiyah. Delegasi yang diutus antara Ali dan Muawiyah semuanya tidak menghasilkan apa-apa. sehingga akhirnya kedunya menempatkan pasukannya di kota tua Shiffin, dekat sunagi eufrat, pada tahun37 H. khalifah ali mengerahkan 50.000 pasukan untuk menghadapi Muawiyah. Sebenarnya pasukan Muawiyah sudah terdesak kalah, dengan 7.000 pasukan terbunuh. Hampir saja Ali memenangkan peperangan ini.
Pada saat situasi tersebut pasukan syam dan Muawiyah mengangkat mushaf-mushaf dan meminta agar bertahkim dengan kitab Allah. Siasat ini di lakukan oleh ‘Amr bin Ash, panglima pasukan Muawiyah, untuk menghentikan perang. Siasat ini ternyata berhasil dan peperangan segera berhenti. Dari kedua belah pihak bertemu dan berunding, namun keduanya tidak sampai pada kata sepakat. Maka, ditulislah lembaran keputusan. Setelah itu kedua pasukan kembali ke negri masing-masing.

2.9  Tahkim Shiffin
Konflik antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan di akhiri dengan tahkim.  Dari pihak khalifah diwakili oleh Abu Musa Al-Asy’ari, sedangkan dari pihak Muawiyah Diwakili oleh ‘Amr bin Ash yang terkenal cerdik. Dalam tahkim tersebut khalifah dan Muawiyah harus meletakkan jabatan, pemilihan baru harus dilaksanakan. Abu Musa pertama kali menurunkan Ali sebagai khalifah, karena Ali telah diturunkan oleh Abu Musa. Peperangan Siffin yang di akhiri melalui tahkim (arbitrase), yakni perselisihan yang diselesaikan oleh dua orang penengah sebagai pengadil. Namun tidak menyelesaikan masalah, kecuali menegaskan bahwa gubernur yang maker itu mempunyai kedudukan yang sama atau setingkat dengan khalifah, dan menyebabkan lahir golongan Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan Ali, yang kira-kira berjumlah 12.000 orang.

2.10 Perpecahan Umat (Syi’ah, Khawarij, dan Pendukung Muawiyah)
Setelah Ali menerima tahkim dari pihak Muawiyah, namun tahkim ini tidak menyelesaikan masalah, bahkan menyebakan umat islam terpecah menjadi 3 golongan yaitu: Syi’ah (pengikut Ali), Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali), dan Muawiyah. Orang Khawarij dulunya adalah pasukan yang berada pada pihak Ali. Mereka malah melakukan pemberontakan kepada Ali setelah terjadinya arbitrasi dan mencopotannya dari kekuasaan dengan alasan bawa ia menerima tahkim.
Sebagai oposisi kekuasaan yang ada, khawarij mengeluarkan beberapa statemen yang menuduh orang-orang yang terlibat tahkim sebagai orang-orang kafir. Khawarij berpendapat bahwa Utsman bin Affan telah menyeleweng dari agama islam. Demikian pula dengan Ali bin Abi Thalib juga telah menyeleweng dari agam islam karena melakukan tahkim. Utsman bin Affan Ali bin Abi Thalib dalam pandangan khawarij, yaitu murtad dan telah kafir. Politisi yang lain yang di anggap kafir oleh khawari adalah Muawiyah, Ame bin Ash, Abu Musa Al-Asy’ari, dan semua orang yang menerima tahkim.
Khawarij tampak tidak berada dalam jalur politik, tetapi berada dalam jalur atau wilayah teologi atau kalam yang merupakan fondasi bagi keberagamaan umat Islam. Khawarij di anggap keluar dari jalur politik karena menilai kafir terhadap orang-orang yang ikut dan menerima tahkim. Menurut Harun Nasution, bukan wilayah politik tetapi wilayah kalam atau teologi.
Ali memiliki pendukung yang sangat fanatic dan setia kepadanya. Dengan adnya oposisi terhadap pemerintahan Ali, kesetiaan mereka malah semakin bertambah, apalagi setelah Ali bin Abi Thalib wafat. Mereka yang fanatic terhadap Ali bin Abi Thalaib dikenal dalam sejarah sebagai kelompok Syi’ah.
Kelompok khawarij yang bermarkas di Nahrawan benar-benar merepotkan khalifah Ali, sehingga memberi kesempatan kepada pihak Muawiyah untuk memperkuat dan memperluaskan kekuasaannya sampai mampu merebut mesir. Akibatnya sungguh sangat fatal bagi Ali. Tentara semakin lemah, sementara Muawiyah semakin kuat dan bertambah besar. Keberhasilan Muawiyah mengambil provinsi mesir, berarti merampas sumber-sumber kemakmuran dan suplai ekonomi dari pihak Ali. Kerena kekuatan Ali telah banyak menurun, terpaksalah Ali menyetujui perjanjian damai dengan muawiyah, yang secara politis berarti khalifah mengakui keabsahan kepemilikan Muawiyah atas Syiria dan Mesir.

2.11 Terbunuhnya Ali
Penyelesaian kompromi Ali dengan Muawiyah tidak disukai oleh kaum perusuh. Kaum khawarij merencanakan untuk membunuh Ali. Muawiyah dan Amar memilih seorang khalifah yang sehaluan dengan mereka, yang bebas dipilih dari seluruh umat Islam. Karena itu Adurrahman pengikut setia kaum khawarij, memberikan pukulan yang hebat kepada Ali sewaktu dia akan Adzan di masjid. Pukulan itu fatal, dan khalifah wafat pada tanggal 17 ramadhan 40 H.
Dalam kisah yang lain, bahwa kematian khalifah Ali diakibatkan oleh pukulan pedang beracun yang di lakukan oleh Abdurahman bin Muljam, sebagaimana dijelaskan Philip k. hatty bahwa:
Pada 24 januari 661, ketika Ali sedang dalam perjalanan menuju masjid Kufah, ia terkena hantaman pedang beracum di dahinya. Pedang yang mengenai otaknya tersebut diayunkan oleh pengikut khawarij, Abd Ar-Rahman bin Muljam, yang ingin membalas dendam atas kematian keluarga seorang wanita, temannya, yang terbunuh di Nahrawan. Tempat terkecil didekat kufah yang menjadi makam Ali.




BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Seperti halnya Umar, Utsman diangkat menjadi khalifah melalui proses pemilihan. Bedanya Umar dipilih langsung sedangkan Utsman diangkat atas penunjukan tidak langsung, yaitu melalui dewan syura atau formatur yang di bentuk oleh Umar menjelang wafat.
Setelah melewati masa-masa gemilang, pada masa paruh terakhir kekuasaanya, Khalifah Utsman menghadapi berbagai pemberontakan dan pembangkangan di dalam negri yang dilakukan oleh orang-orang yang kecewa terhadap tabiat khalifah dan beberapa kebijaksanaan pemerintahannya.
Setelah wafatnya utsman bin Affan karena di bunuh, stabilitas keamanan kota menjadi rawan. Kemudian Ali bin Abi Thalib menggantikan Utsman, menerima baiat dari sejumlah kaum musim.
Tugas pertama yang dilakukan oleh khlifah Ali adalah menghidupkan cita-cita Abu Bakar dan Umar, yakni menarik kembali semua tanah dan hibah yang telah di bagikan oleh Utsman kepada kaum kerabatnya ke dalam kepemilikan Negara. Ali juga segera menurunkan semua gubernur yang tidak di senangi oleh rakyat.
Peristiwa Penting yang terjadi pada masa pemerintahan Ali :
1.      Perang Jamal                          3. Peristiwa Tahkim
2.      Perang Siffin                          4. Munculnya Syiah dan Khawarij
Penyelesaian kompromi Ali dengan Muawiyah tidak disukai oleh kaum perusuh. Kaum khawarij merencanakan untuk membunuh Ali. Adurrahman pengikut setia kaum khawarij, memberikan pukulan yang hebat kepada Ali sewaktu dia akan Adzan di masjid. Pukulan itu fatal, dan khalifah wafat pada tanggal 17 ramadhan 40 H.

3.2 Kritik dan Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

3.3 Daftar Pustaka

sepatah kata Admin (Welcome To My Blog)


Test....
test...



bingung mau nulis pa.??
hahah :D

oia

ini adalah blog baru admin.Sesuai dengan namanya, niatnya sih blog ini mau admin isi dengan kumpulan2 makalah yang udah admin bikin waktu kuliah. Tujuan dari Blog ini sih sebener'y cuma mau buat tempat penyimpanan ja si biar data data makalah'y ga ilang..
kenapa admin simpen disini.??
soal'y kalau makalah2 yang admin buat d simpen di komputer admin atau Flashdisk biasa'y ada ja si masalah yang bisa bikin makalah2 admin jadi hilang. Entah itu karna komputernya rusak yang mau ga mau harus di instal ulang yang membuat semua data jadi hilang...
kalau di simpen d Flashdisk..!!


Admin tuh orang'y sembrono jadi Suka lupa nyimpen Fd dimana.??
haha
maka'y admin bikin dah blog ini.. yaaa moga ja selain jadi tempat nyimpen data admin, blog ini juga bisa bermanfaat buat temen2 semua yang lagi kesusahan nyari makalah...


Ok sipp cukup sekian dah perkenal dari blog ini..
heheh.
ditunggu ja ya post'y.. :D