KATA PENGANTAR
Kami panjatkan puji syukur kehadirat
tuhan yang maha esa yang telah memberi petunjuk dan kemudahan kepada penulis
dalam menyelesaikan tugas makalah Dasar-Dasar Pendidikan Mateamtika. Materi
yang disajikan dalam makalah ini berupa beberapa materi yang bersangkutan
dengan Mateamtika Untuk Pengembangan keterampilan Sikap dan Kemampuan. Dengan
dipresentasikan makalah ini, penulis mengharapkan bisa dipelajari dengan baik
dan dapat berfikir kreatif dalam menanggapi isu yang ada di masyarakat. Dengan
demikian makalah ini dibuat, semoga makalah ini bermanfaat untuk mengembangkan
pengetahuan mahasiswa – mahasiswi universitas Mathla’ul Anwar.
Ttd
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR....................................................................................................... i
DAFTAR
ISI.................................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN................................................................................................ 1
1.1
Latar Belakang................................................................................................. 1
1.2
Rumusan Masalah............................................................................................ 1
1.3
Maksud dan Tujuan......................................................................................... 1
BAB
II PEMBAHSAN.................................................................................................... 2
2.1 Matematika Untuk Pengembangan Pengetahuan
Problem Solving............... 2
2.2 Matematika Untuk Pengembangan Sikap,
Keterampilan Serta Pengawasan
Pengetahuan................................................................................................... 4
2.3 Matematika Sebagai Tujuan Pendidikan....................................................... 6
BAB
III PENUTUP.......................................................................................................... 8
3.1
Kesimpulan...................................................................................................... 8
3.2
Kritik dan Saran............................................................................................... 8
3.3
Daftar Pustaka................................................................................................. 9
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu isu sentral
dalam pendidikan dewasa ini adalah rendahnya hasil pembelajaran matematika
mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga sekolah menengah. Hasil studi yang
dilakukan Mugiadi pada tahun 1976 dan Suryadi pada tahun 1989 seperti yang
diungkapkan kembali oleh Badan Akreditasi Sekolah, Depdiknas (2004) menunjukkan
bahwa kemampuan rata-rata siswa SD dalam mata pelajaran matematika adalah 33
pada tahun 1976, sedangkan pada tahun 1989 menjadi 21,5 dibandingkan dengan
penguasaan standar 50%. Untuk tingkat SMP, menurut laporan The Third International
Mathematics and Science Study(IAEA) pada tahun 1999, sebagaimana
diungkapkan kembali oleh Badan Akreditasi Sekolah, Depdiknas (2004), hasil
belajar matematika pada urutan ke 34 (Depdiknas, 2004). Dengan kata lain, hasil
pembelajaran matematika di Indonesia masih belum memenuhi standar kompetensi
yang harus dicapai.
Bernalar sangat
penting dalam belajar matematika, karena matematika terbentuk dan berkembang
melalui proses penalaran. Kemampuan bernalar perlu dimiliki para siswa dari
jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah. Hal ini telah ditekankan dalam
Kurikulum 2004, bahwa matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan
bernalar melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi dan eksperimen sebagai alat
pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika, serta sebagai alat
komunikasi melalui simbol, tabel, grafik diagram dalam menjelaskan gagasan.
Kemampuan untuk
mengembangkan keterampilan siswa dalam melakukan penalaran secara logis dan
kritis, dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan keterampilan dalam
memecahkan masalah merupakan salah satu kompetensi yang dituntut dalam Standar
Kompetensi Guru Sekolah Dasar (Depdiknas, 2003). Agar mempunyai kemampuan
tersebut, guru harus memiliki keterampilan dalam mengembangkan kemampuan
bernalar dan memecahkan masalah dengan baik. Oleh karena itu, dalam makalah ini
penulis akan sedikit mendeskripsikan tentang matematika untuk pengembangan
keterampilan sikap dan kemampuan.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan matematika untuk
pengetahuan problem solving.?
2.
Apa yang dimaksud matematika utuk pengembangan
sikap.?
3.
Apa fungsi mateamtika sebagai tujuan pendidikan.?
1.3 Maksud dan Tujuan
Dengan terselesaikannya makalah ini
penulis bertujuan untuk memberi wawasan pengetahuan tentang Matematika Untuk
Pengembangan Ketrampilan Sikap dan Kemampuan. Dan selain dari pada itu kami
juga bertujuan untuk memenuhi tugas Dasar – Dasar Pendidikan Matematika.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Matematika Untuk
Pengembangan Pengetahuan Problem Solving
Polya(1985) mengajukan empat langkah fase penyelesaian masalah
yaitu memahami
masalah,merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah dan melakukan pengecekan kembalisemua
langkah yang telah dikerjakan.
Dalam matematika hal
seperti itu biasanya berupa pemecahan masalah yang didalamnya termuat soal
cerita untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah hal yang
perlu ditingkatkan adalah kemampuan menyangkut berbagai hal teknik dan strategi
pemecah masalah,pengetahuan, keterampilan dan pemahaman merupakan elemen–elemen
penting dalam belajar matematika terkadang guru menghadapi kesulitan dalam
mengajarkan cara menyelesaikan masalah dengan baik. Sementara dipihak lain
siswa mengalami kesulitan bagaimana menyelesaikan masalah yang diberikan guru,
kesulitan ini muncul, karena mencari jawaban dipandang sebagai satu-satunya
tujuan yang ingin dicapai, karena hanya terfokus pada jawaban.
Berbicara pemecahan
masalah, kita tidak bisa terlepas dari tokoh utamany yaitu Polya. Menurut polya
dalam pemecahan masalah. Ada empat langkah yang harus dilakukan, Keempat
tahapan ini lebih dikenal dengan See (memahami problem), Plan (menyusun
rencana), Do (melaksanakan rencana) dan Check (menguji jawaban) sudah menjadi jargon
sehari-hari dalam penyelesaian problem sehingga Polya layak disebut dengan
“Bapak problem solving.”
Gambaran umum dari Kerangka
kerja Polya:
1. Pemahaman pada masalah
(Identifikasi dari tujuan)
Langkah pertama adalah
membaca soalnya dan meyakinkan diri bahwa anda memahaminya secara benar.
Tanyalah diri anda dengan pertanyaan :
· Apa
yang tidak diketahui?
· Kuantitas
apa yang diberikan pada soal?
· Kondisinya
bagaimana?
· Apakah
ada kekecualian?
Untuk beberapa masalah akan
sangat berguna untuk membuat diagranmnya dan mengidentifikasi
kuantitas-kuantitas yang diketahui dan dibutuhkan pada diagram tersebut.
Biasanya dibutuhkan
membuat beberapa notasi (
x, a, b, c, V=volume, m=massa dsb ).
2. Membuat Rencana
Pemecahan Masalah
Kedua: Carilah
hubungan antara informasi yang diberikan dengan yang tidak diketahui yang
memungkinkan anda untuk memghitung variabel yang tidak diketahui. Akan sangat
berguna untuk membuat pertanyaan: “Bagaimana saya akan menghubungkan hal yang
diketahui untuk mencari hal yang tidak diketahui? “. Jika anda tak melihat
hubungan secara langsung, gagasan berikut ini mungkin akan menolong dalam
membagi masalah ke sub masalah
a. Membuat sub masalah
b. Pada masalah yang
komplek, akan sangat berguna untuk membantu jika anda membaginya kedalam
beberapa sub masalah, sehingga anda dapat membangunya untuk menyelesaikan
masalah.
c.Cobalah untuk mengenali
sesuatu yang sudah dikenali.
d.Hubungkan masalah
tersebut dengan hal yang sebelumnya sudah dikenali. Lihatlah pada hal yang
tidak diketahui dan cobalah untuk mengingat masalah yang mirip atau memiliki
prinsip yang sama.
e. Cobalah untuk
mengenali polanya.
f. Beberapa masalah dapat
dipecahkan dengan cara mengenali polanya. Pola tersebut dapat berupa pola
geometri atau pola aljabar. Jika anda melihat keteraturan atau pengulangan
dalam soal, anda dapat menduga apa yang selanjutnya akan terjadi dari pola
tersbut dan membuktikannya.
g. Gunakan analogi, Cobalah untuk
memikirkan analogi dari masalah tersebut, yaitu, masalah yang mirip, masalah
yang berhubungan, yang lebih sederhana sehingga memberikan anda petunjuk yang
dibutuhkan dalam memecahkan masalah yang lebih sulit.
3. Malaksanakan
Rencana
Ketiga. Menyelesaikan
rencana anda. Dalam melaksanakan rencana yang tertuang pada langkah kedua, kita
harus memeriksa tiap langkah dalam rencana dan menuliskannya secara detail
untuk memastikan bahwa tiap langkah sudah benar. Sebuah persamaan tidaklah
cukup!
4. Lihatlah kembali
Keempat. Ujilah solusi
yang telah didapatkan. Kritisi hasilnya. lihatlah kelemahan dari solusi yang
didapatkan (seperti: ketidak konsistenan atau ambiguitas atau langkah yang
tidak benar ) Pada saat guru menggunakan strategi ini, sebaiknya ditekankan
bahwa
penggunaan objek yang
dicontohkan dapat diganti dengan satu model yang lebih sederhana, misalnya
:
1. Membuat gambar atau
diagram.
Penekanan ini perlu
dilakukan bahwa gambar atau diagram yang dibuat tidak perlu sempurna, terlalu
bagus atau terlalu aktual, yang penting bagian-bagian terpenting dari gambar
itu dapat memperjelas masalah.
2. Menemukan pola
Kegiatan matematika yang
berkaitan dengan proses menemukan suatu poladari sejumlah data yang diberikan,
dapat mulai dilakukan melalui sekumpulan gambar atau bilangan. Kegiatan yang
mungkin dilakukan antara lain dengan mengobservasi sifat-sifat yang dimiliki
bersama oleh kumpulan gambar atau
bilangan yang tersedia.
Sebagai suatu strategi
untuk pemecahan masalah, pencarian pola yang pada awalnya hanya dilakukan
secara pasif melalui permasalahan yang dikeluarkan oleh guru, pada suatu saat
keterampilan itu akan terbentuk dengan sendirinya sehingga pada saat menghadapi
permasalahan tertentu, salah satu pertanyaan yang mungkin muncul pada benak
seseorang antara lain adalah :”Adakah pola atau keteraturan tertentu yang mengaitkan
tiap data yang diberikan?”. Tanpa melalui latihan sangat sulit bagi seseorang
untuk menyadari bahwa dalam permasalahan yang dihadapinya terdapat pola yang
bisa diungkap.
3. Membuat tabel
Mengorganisasi data ke
dalam sebuah tabel dapat membantu kita dalam mengungkapkan suatu pola tertentu
serta dalam mengidentifikasi informasi yang tidak lengkap. Penggunaan tabel
merupakan langkah yang sangat efisien untuk melakukan klasifikasi serta
menyusun sejumlah besar data sehingga apabila muncul pertanyaan baru berkenaan
dengan data tersebut, maka kita akan dengan mudah menggunakan data tersebut,
sehingga jawaban pertanyaan tadi dapat diselesaikan dengan baik.
4. Memperhatikan semua
kemungkinan secara sistematik
Strategi ini biasanya
digunakan bersamaan dengan strategi mencari pola dan menggambar tabel. Dalam
menggunakan strategi ini, kita tidak perlu memperhatikan keseluruhan
kemungkinan yang bisa terjadi.Yang kitaperhatikan adalah semua
kemungkinan yang diperoleh dengan cara sistematik. Yang dimaksud
sistematik disini misalnya dengan
mengorganisasikan data
berdasarkan kategori tertentu. Namun demikian, untuk masalah-masalah tertentu,
mungkin kita harus memperhatikan semua kemungkinan yang bisa terjadi.
5. Tebak dan periksa (
Guess and Check )
Strategi menebak yang
dimaksudkan disini adalah menebak yang didasarkan pada alasan tertentu serta
kehati-hatian. Selain itu, untuk dapat melakukan tebakan dengan baik seseorang
perlu memiliki pengalaman cukup yang berkaitan dengan permasalahan yang
dihadapi
2.2
Matematika Untuk Pengembangan Sikap, Keterampilan Serta Pengawas Pengetahuan
Berdasarkan karakteristik dari matematika
(misalnya Kline, 1968; Bell, 1978; National Research Council, 1989; dan
Souviney, 1994), matematika mempunyai potensi yang besar untuk memberikan
berbagai macam kemampuan(Keterampilan), dan sikap yang diperlukan oleh manusia
agar ia bisa hidup secara cerdas (intelligent) dalam lingkungannya, dan agar
bisa mengelola berbagai hal yang ada di dunia ini dengan sebaik-baiknya.
Kemampuan-kemampuan(Keterampilan) yang dapat diperoleh dari matematika antara
lain ialah:
1.
kemampuan
berhitung.
2.
kemampuan
mengamati dan membayangkan bangunan-bangunan geometris yang ada di alam beserta
dengan sifat-sifat keruangan (spatial properties) masing-masing
3.
kemampuan
melakukan berbagai macam pengukuran, misalnya panjang, luas, volume, berat dan
waktu
4.
kemampuan
mengamati, mengorganisasi, mendeskripsi, menyajikan, dan menganalisis data
5.
kemampuan
melakukan kuantifikasi terhadap berbagai variabel dalam berbagai bidang kehidupan,
sehingga hubungan antara variabel yang satu dan variabel yang lain dapat
diketahui secara lebih eksak
6.
kemampuan
mengamati pola atau struktur dari suatu situasi
7.
kemampuan
untuk membedakan hal-hal yang relevan dan hal-hal yang tidak relevan pada suatu
masalah
8.
kemampuan membuat prediksi atau perkiraan
tentang sesuatu hal berdasarkan data-data yang ada
9.
kemampuan
menalar secara logis, termasuk kemampuan mendeteksi adanya kontradiksi pada
suatu penalaran atau tindakan.
10. kemampuan berpikir dan bertindak secara konsisten
11. kemampuan berpikir dan bertindak secara mandiri (independen)
berdasarkan alasan yang dapat dipertanggung jawabkan
12. kemampuan berpikir kreatif
13. kemampuan memecahkan masalah dalam berbagai situasi.
Di samping dapat memberikan
kemampuan-kemampuan, bidang studi matematika juga berguna untuk menanamkan atau
memperkuat sikap-sikap tertentu. Sikap-sikap yang dapat ditumbuh kembangkan
melalui bidang studi matematika antara lain ialah sikap teliti (cermat), sikap
kritis, sikap efisien, sikap telaten, dan sikap atentif terhadap detil.
Memang, bidang-bidang studi yang lainpun
ada kemungkinan juga mempunyai potensi untuk menumbuh kembangkan satu atau
lebih kemampuan atau sikap di atas, akan tetapi potensi matematika untuk
menumbuh kembangkan hal-hal tersebut relatif besar karena itu semua sesuai
dengan karakteristik matematika. Karakteristik Pembelajaran Matematika yang dapat
Mengaktualisasikan Potensi-potensi Tersebut di Atas.Potensi-potensi di atas akan
teraktualisasikan (terimplementasi dalam kenyataan) atau tidak pada diri
masing-masing siswa masih tergantung pada berbagai faktor, yaitu karakteristik
pembelajaran matematika itu sendiri (baik materi maupun strategi
pembelajarannya), faktor sosial-budaya yang ada dalam masyarakat dan beberapa
faktor yang lain, termasuk faktor-faktor intrinsik yang ada dalam diri
masing-masing siswa. Namun, di antara faktor-faktor itu, yang amat menentukan
adalah faktor pembelajaran matematika itu sendiri, yang meliputi materi dan
strategi pembelajaran.
karakteristik pembelajaran matematika yang dapat mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut di atas adalah sebagai berikut :
karakteristik pembelajaran matematika yang dapat mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut di atas adalah sebagai berikut :
1. Dari segi
materi pembelajaran :
a. Materi pembelajaran harus meliputi
jenis-jenis materi yang sedemikian rupa, sehingga kemampuan-kemampuan atau
sikap-sikap yang akan ditumbuh kembangkan bisa tercakup (sebagai contoh, jika
kemampuan memahami relasi-relasi keruangan akan dikembangkan, tentulah materi
pembelajaran harus mencakup materi geometri yang sesuai dengan kemampuan yang
bersangkutan).
b. Agar
kemampuan-kemampuan dan sikap-sikap yang diperoleh siswa juga dapat
diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari di luar bidang studi matematika
itu sendiri, pada materi pembelajaran perlu juga dimasukkan berbagai contoh
situasi nyata dari kehidupan sehari-hari yang relevan. Sebagai contoh, jika
siswa diharapkan nantinya memiliki kemampuan menalar yang baik dalam
kehidupannya sehari-hari, materi pembelajaran harus mencakup juga berbagai
contoh kasus dari kehidupan sehari-hari untuk digunakan sebagai bahan latihan
untuk penalaran.
c. Materi pembelajaran tidak boleh terlalu
padat, untuk memberikan kesempatan yang cukup bagi siswa untuk melakukan proses
belajar secara aktif dan konstruktif.
2. Dari segi
strategi pembelajaran
Berdasarkan
tulisan-tulisan dari National Research Council (1989); NCTM (1989), Schiffer
dan Fosnot
(1993), Souviney (1994), dan lain-lain, penulis berpendapat bahwa strategi
pembelajaran yang
sesuai untuk mengaktualisasikan potensi-potensi matematika tersebut
diatas adalah strategi yang memenuhi kriteria (syarat-syarat
) berikut :
a.
Strategi
tersebut harus memberikan kesempatan dan dorongan bagi siswa untuk secara aktif
mengkonstruksi makna (meaning) dari materi-materi yang dipelajari, untuk
mengusahakan agar proses pembelajaran betul-betul bermakna (meaningful) bagi
para siswa yang bersangkutan, sehingga pengetahuan-pengetahuan,
kemampuan-kemampuan, sikap-sikap, dan lain-lain yang dipelajari bisa
terinternalisasi dengan baik (lihat, Schifter & Fosnot, 1993). Jika proses
belajar aktif dan konstruktif tidak dilakukan, dapat dikhawatirkan bahwa
pembelajaran hanya terjadi secara mekanistik (rote learning), sehingga
pengetahuan-pengetahuan, kemampuan-kemampuan, sikap-sikap, dan lain-lain tidak
terinternalisasi dengan baik, atau bahkan tidak terinternalisasi sama sekali.
b.
Strategi
harus secara ekspilist dan intensif melatih dan mengembangkan
kemampuan-kemampuan dan sikap-sikap seperti yang disebutkan di muka. Dalam
kenyataan yang sering terjadi, pada bagian awal dari GBPP ada perumusan tujuan
tentang kemampuan-kemampuan dan sikap-sikap yang diharapkan akan diperoleh;
akan tetapi, dalam pelaksanaan dari kegiatan pembelajaran tidak ada usaha yang
eksplisit untuk mengupayakan agar kemampuan-kemampuan dan sikap-sikap itu
betul-betul bisa diperoleh, dengan akibat bahwa para siswa kemungkinan besar
tidak bisa memperoleh atau mengembangkan kemampuan-kemampuan dan sikap-sikap
tersebut.
c.
Strategi
pembelajaran matematika tersebut harus banyak menggunakan contoh-contoh
kejadian (kasus, fenomena) dari dunia nyata untuk dikupas atau dinalisis.
Misalnya, untuk melatih siswa dalam memecahkan masalah-masalah dalam dunia
nyata, contoh-contoh masalah yang berasal dari dunia sebaiknya juga digunakan.
Dengan contoh-contoh kasus nyata tersebut, di samping proses pemecahan masalah
menjadi aktual, siswa juga mengetahui konteks-konteks dalam dunia nyata yang
bisa dianalisis secara matematis, atau bisa dikupas segi-segi matematisnya.
Proses ini juga akan memperkuat motivasi siswa dalam mempelajari matematika,
sebab siswa mengetahui relevansi matematika yang mereka pelajari dengan situasi
kehidupan nyata yang mereka alami. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Prof.
Hans Freudenthal (alm.) bahwa matematika yang dipelajari oleh siswa sedapat
mungkin harus dekat atau relevan dengan kenyataan hidup yang dialami oleh para
siswa sehari-hari (lihat misalnya, dalam de Lange, 1987; dan Heuvel-Panhuizen,
1996).
d.
Strategi
tersebut perlu menunjukkan kegunaan matematika secara terintegrasi pada
berbagai masalah, untuk mengusahakan agar siswa memahami bahwa dalam kehidupan
nyata seringkali suatu masalah atau suatu gejala memuat berbagai aspek sehingga
cabang matematika bisa dipakai bersama-sama untuk menganalisis masalah atau
gejala tersebut.
2.3 Matematika Sebagai
Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan matematika ada dua yaitu tujuan yang
bersifat formal dan tujuan yang bersifat material.
1. Tujuan yang Bersifat FORMAL
Pembelajaran matematika sekolah memiliki
tujuan yang bersifat FORMAL. Dalam hal ini pembelajaran matematika sekolah yang
diberikan kepada peserta didik dimaksudkan untuk menata nalar peserta didik
serta membentuk kepribadiannya. (bila hal itu dipahami dan disepakati, jelas
bahwa ketercapaiannya tidaklah hanya dilihat dari lulus/tidak lulus ujian).
Dalam tujuan formal ini terkandung aspek nilai—nilai yang terkait dengan kehidupan keseharian peserta didik kini dan kelak. Dalam hal nilai-nilai tersebut, pembelajaran matematika di masa lalu lebih ditekankan kepada pencapaian yang bersifat “by chance”, yang lebih cenderung tidak dirancang tetapi dengan sendirinya. Dewasa ini pembelajaran nilai-nilai yang terkandung dalam pelajaran matematika banyak dikaji melalui “Rencana Pelajaran” (lesson plan) yang secara sengaja disusun ke arah terbentuknya nilai-nilai tersebut pada diri siswa.
Dalam tujuan formal ini terkandung aspek nilai—nilai yang terkait dengan kehidupan keseharian peserta didik kini dan kelak. Dalam hal nilai-nilai tersebut, pembelajaran matematika di masa lalu lebih ditekankan kepada pencapaian yang bersifat “by chance”, yang lebih cenderung tidak dirancang tetapi dengan sendirinya. Dewasa ini pembelajaran nilai-nilai yang terkandung dalam pelajaran matematika banyak dikaji melalui “Rencana Pelajaran” (lesson plan) yang secara sengaja disusun ke arah terbentuknya nilai-nilai tersebut pada diri siswa.
2. Tujuan yang bersifat MATERIAL
Pembelajaran matematika memiliki tujuan
yang bersifat MATERIAL. Dalam hal ini pembelajaran matematika sekolah yang
diberikan kepada peserta didik dimaksudkan agar peserta didik dapat memecahkan
masalah matematika dan dapat menerapkan matematika.
Pencapaian kedua tujuan tersebut dapat mengantar SDM yang
akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang unggul dalam IPTEK dan IMTAK dan
juga menjadi bangsa yang berbudaya yang sesuai dengan tujuan pendidikan
Indonesia yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Polya(1985) mengajukan empat langkah fase
penyelesaian masalah yaitu memahami
masalah,merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah dan melakukan pengecekan
kembalisemua langkah yang telah dikerjakan.
Dalam matematika hal
seperti itu biasanya berupa pemecahan masalah yang didalamnya termuat soal
cerita untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah hal
Berdasarkan karakteristik dari matematika
(misalnya Kline, 1968; Bell, 1978; National Research Council, 1989; dan
Souviney, 1994), matematika mempunyai potensi yang besar untuk memberikan
berbagai macam kemampuan(Keterampilan), dan sikap yang diperlukan oleh manusia
agar ia bisa hidup secara cerdas (intelligent) dalam lingkungannya, dan agar
bisa mengelola berbagai hal yang ada di dunia ini dengan sebaik-baiknya.
Kemampuan-kemampuan(Keterampilan) yang dapat diperoleh dari matematika antara
lain ialah:
1.
kemampuan
berhitung.
2.
kemampuan
mengamati dan membayangkan bangunan-bangunan geometris yang ada di alam beserta
dengan sifat-sifat keruangan (spatial properties) masing-masing
3.
kemampuan
melakukan berbagai macam pengukuran, misalnya panjang, luas, volume, berat dan
waktu. DLL
Tujuan pendidikan matematika ada dua yaitu tujuan yang
bersifat formal dan tujuan yang bersifat material. Pencapaian kedua tujuan
tersebut dapat mengantar SDM yang akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa
yang unggul dalam IPTEK dan IMTAK dan juga menjadi bangsa yang berbudaya yang sesuai
dengan tujuan pendidikan Indonesia yang tercantum dalam Undang-Undang
Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
3.2 Kritik dan Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai
materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak
kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya
rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang
budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi
sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan
berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para
pembaca yang budiman pada umumnya.
3.3 Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar