Minggu, 04 Januari 2015

Mendeskripsikan Matematika Untuk Pengembangan Keterampilan Sikap dan Kemampuan

KATA PENGANTAR
       Kami panjatkan puji syukur kehadirat tuhan yang maha esa yang telah memberi petunjuk dan kemudahan kepada penulis dalam menyelesaikan tugas makalah Dasar-Dasar Pendidikan Mateamtika. Materi yang disajikan dalam makalah ini berupa beberapa materi yang bersangkutan dengan Mateamtika Untuk Pengembangan keterampilan Sikap dan Kemampuan. Dengan dipresentasikan makalah ini, penulis mengharapkan bisa dipelajari dengan baik dan dapat berfikir kreatif dalam menanggapi isu yang ada di masyarakat. Dengan demikian makalah ini dibuat, semoga makalah ini bermanfaat untuk mengembangkan pengetahuan mahasiswa – mahasiswi universitas Mathla’ul Anwar.




                                                                                                        Ttd                         


                                                                                                        Penyusun 














DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................ 1
1.3 Maksud dan Tujuan......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHSAN.................................................................................................... 2
2.1   Matematika Untuk Pengembangan Pengetahuan Problem Solving............... 2
2.2   Matematika Untuk Pengembangan Sikap, Keterampilan Serta Pengawasan
        Pengetahuan................................................................................................... 4
2.3   Matematika Sebagai Tujuan Pendidikan....................................................... 6
BAB III PENUTUP.......................................................................................................... 8
3.1 Kesimpulan...................................................................................................... 8
3.2 Kritik dan Saran............................................................................................... 8
3.3 Daftar Pustaka................................................................................................. 9












BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Salah satu isu sentral dalam pendidikan dewasa ini adalah rendahnya hasil pembelajaran matematika mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga sekolah menengah. Hasil studi yang dilakukan Mugiadi pada tahun 1976 dan Suryadi pada tahun 1989 seperti yang diungkapkan kembali oleh Badan Akreditasi Sekolah, Depdiknas (2004) menunjukkan bahwa kemampuan rata-rata siswa SD dalam mata pelajaran matematika adalah 33 pada tahun 1976, sedangkan pada tahun 1989 menjadi 21,5 dibandingkan dengan penguasaan standar 50%. Untuk tingkat SMP, menurut laporan The Third International Mathematics and Science Study(IAEA) pada tahun 1999, sebagaimana diungkapkan kembali oleh Badan Akreditasi Sekolah, Depdiknas (2004), hasil belajar matematika pada urutan ke 34 (Depdiknas, 2004). Dengan kata lain, hasil pembelajaran matematika di Indonesia masih belum memenuhi standar kompetensi yang harus dicapai.
Bernalar sangat penting dalam belajar matematika, karena matematika terbentuk dan berkembang melalui proses penalaran. Kemampuan bernalar perlu dimiliki para siswa dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah. Hal ini telah ditekankan dalam Kurikulum 2004, bahwa matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi dan eksperimen sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika, serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik diagram dalam menjelaskan gagasan.
Kemampuan untuk mengembangkan keterampilan siswa dalam melakukan penalaran secara logis dan kritis, dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan keterampilan dalam memecahkan masalah merupakan salah satu kompetensi yang dituntut dalam Standar Kompetensi Guru Sekolah Dasar (Depdiknas, 2003). Agar mempunyai kemampuan tersebut, guru harus memiliki keterampilan dalam mengembangkan kemampuan bernalar dan memecahkan masalah dengan baik. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan sedikit mendeskripsikan tentang matematika untuk pengembangan keterampilan sikap dan kemampuan.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan matematika untuk pengetahuan problem solving.?
2.      Apa yang dimaksud matematika utuk pengembangan sikap.?
3.      Apa fungsi mateamtika sebagai tujuan pendidikan.?

1.3  Maksud dan Tujuan
Dengan terselesaikannya makalah ini penulis bertujuan untuk memberi wawasan pengetahuan tentang Matematika Untuk Pengembangan Ketrampilan Sikap dan Kemampuan. Dan selain dari pada itu kami juga bertujuan untuk memenuhi tugas Dasar – Dasar Pendidikan Matematika.



BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Matematika Untuk Pengembangan Pengetahuan Problem Solving
Polya(1985) mengajukan empat langkah fase penyelesaian masalah yaitu memahami masalah,merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah dan melakukan pengecekan kembalisemua langkah yang telah dikerjakan.
Dalam matematika hal seperti itu biasanya berupa pemecahan masalah yang didalamnya termuat soal cerita untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah hal yang perlu ditingkatkan adalah kemampuan menyangkut berbagai hal teknik dan strategi pemecah masalah,pengetahuan, keterampilan dan pemahaman merupakan elemen–elemen penting dalam belajar matematika terkadang guru menghadapi kesulitan dalam mengajarkan cara menyelesaikan masalah dengan baik. Sementara dipihak lain siswa mengalami kesulitan bagaimana menyelesaikan masalah yang diberikan guru, kesulitan ini muncul, karena mencari jawaban dipandang sebagai satu-satunya tujuan yang ingin dicapai, karena hanya terfokus pada jawaban.
Berbicara pemecahan masalah, kita tidak bisa terlepas dari tokoh utamany yaitu Polya. Menurut polya dalam pemecahan masalah. Ada empat langkah yang harus dilakukan, Keempat tahapan ini lebih dikenal dengan See (memahami problem), Plan (menyusun rencana), Do (melaksanakan rencana) dan Check (menguji jawaban) sudah menjadi jargon sehari-hari dalam penyelesaian problem sehingga Polya layak disebut dengan “Bapak problem solving.”
Gambaran umum dari Kerangka kerja Polya:
1. Pemahaman pada masalah (Identifikasi dari tujuan)
Langkah pertama adalah membaca soalnya dan meyakinkan diri bahwa anda memahaminya secara benar. Tanyalah diri anda dengan pertanyaan :
·     Apa yang tidak diketahui?
·     Kuantitas apa yang diberikan pada soal?
·     Kondisinya bagaimana?
·     Apakah ada kekecualian?
Untuk beberapa masalah akan sangat berguna untuk membuat diagranmnya dan mengidentifikasi kuantitas-kuantitas yang diketahui dan dibutuhkan pada diagram tersebut. Biasanya dibutuhkan
membuat beberapa notasi ( x, a, b, c, V=volume, m=massa dsb ).

2. Membuat Rencana Pemecahan Masalah
Kedua: Carilah hubungan antara informasi yang diberikan dengan yang tidak diketahui yang memungkinkan anda untuk memghitung variabel yang tidak diketahui. Akan sangat berguna untuk membuat pertanyaan: “Bagaimana saya akan menghubungkan hal yang diketahui untuk mencari hal yang tidak diketahui? “. Jika anda tak melihat hubungan secara langsung, gagasan berikut ini mungkin akan menolong dalam membagi masalah ke sub masalah
a. Membuat sub masalah
b. Pada masalah yang komplek, akan sangat berguna untuk membantu jika anda membaginya kedalam beberapa sub masalah, sehingga anda dapat membangunya untuk menyelesaikan masalah.
c.Cobalah untuk mengenali sesuatu yang sudah dikenali.
d.Hubungkan masalah tersebut dengan hal yang sebelumnya sudah dikenali. Lihatlah pada hal yang tidak diketahui dan cobalah untuk mengingat masalah yang mirip atau memiliki prinsip yang sama.
e. Cobalah untuk mengenali polanya.
f. Beberapa masalah dapat dipecahkan dengan cara mengenali polanya. Pola tersebut dapat berupa pola geometri atau pola aljabar. Jika anda melihat keteraturan atau pengulangan dalam soal, anda dapat menduga apa yang selanjutnya akan terjadi dari pola tersbut dan membuktikannya.
g. Gunakan analogi, Cobalah untuk memikirkan analogi dari masalah tersebut, yaitu, masalah yang mirip, masalah yang berhubungan, yang lebih sederhana sehingga memberikan anda petunjuk yang dibutuhkan dalam memecahkan masalah yang lebih sulit.

 3. Malaksanakan Rencana
Ketiga. Menyelesaikan rencana anda. Dalam melaksanakan rencana yang tertuang pada langkah kedua, kita harus memeriksa tiap langkah dalam rencana dan menuliskannya secara detail untuk memastikan bahwa tiap langkah sudah benar. Sebuah persamaan tidaklah cukup!

4. Lihatlah kembali
Keempat. Ujilah solusi yang telah didapatkan. Kritisi hasilnya. lihatlah kelemahan dari solusi yang didapatkan (seperti: ketidak konsistenan atau ambiguitas atau langkah yang tidak benar ) Pada saat guru menggunakan strategi ini, sebaiknya ditekankan bahwa
penggunaan objek yang dicontohkan dapat diganti dengan satu model yang lebih sederhana, misalnya :
1. Membuat gambar atau diagram.
Penekanan ini perlu dilakukan bahwa gambar atau diagram yang dibuat tidak perlu sempurna, terlalu bagus atau terlalu aktual, yang penting bagian-bagian terpenting dari gambar itu dapat memperjelas masalah.
2. Menemukan pola
Kegiatan matematika yang berkaitan dengan proses menemukan suatu poladari sejumlah data yang diberikan, dapat mulai dilakukan melalui sekumpulan gambar atau bilangan. Kegiatan yang mungkin dilakukan antara lain dengan mengobservasi sifat-sifat yang dimiliki bersama oleh kumpulan gambar atau bilangan yang tersedia.
Sebagai suatu strategi untuk pemecahan masalah, pencarian pola yang pada awalnya hanya dilakukan secara pasif melalui permasalahan yang dikeluarkan oleh guru, pada suatu saat keterampilan itu akan terbentuk dengan sendirinya sehingga pada saat menghadapi permasalahan tertentu, salah satu pertanyaan yang mungkin muncul pada benak seseorang antara lain adalah :”Adakah pola atau keteraturan tertentu yang mengaitkan tiap data yang diberikan?”. Tanpa melalui latihan sangat sulit bagi seseorang untuk menyadari bahwa dalam permasalahan yang dihadapinya terdapat pola yang bisa diungkap.
3. Membuat tabel
Mengorganisasi data ke dalam sebuah tabel dapat membantu kita dalam mengungkapkan suatu pola tertentu serta dalam mengidentifikasi informasi yang tidak lengkap. Penggunaan tabel merupakan langkah yang sangat efisien untuk melakukan klasifikasi serta menyusun sejumlah besar data sehingga apabila muncul pertanyaan baru berkenaan dengan data tersebut, maka kita akan dengan mudah menggunakan data tersebut, sehingga jawaban pertanyaan tadi dapat diselesaikan dengan baik.
4. Memperhatikan semua kemungkinan secara sistematik
Strategi ini biasanya digunakan bersamaan dengan strategi mencari pola dan menggambar tabel. Dalam menggunakan strategi ini, kita tidak perlu memperhatikan keseluruhan kemungkinan yang bisa terjadi.Yang kitaperhatikan adalah semua kemungkinan  yang diperoleh dengan cara sistematik. Yang dimaksud sistematik disini misalnya dengan
mengorganisasikan data berdasarkan kategori tertentu. Namun demikian, untuk masalah-masalah tertentu, mungkin kita harus memperhatikan semua kemungkinan yang bisa terjadi.
5. Tebak dan periksa ( Guess and Check )
Strategi menebak yang dimaksudkan disini adalah menebak yang didasarkan pada alasan tertentu serta kehati-hatian. Selain itu, untuk dapat melakukan tebakan dengan baik seseorang perlu memiliki pengalaman cukup yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi

2.2 Matematika Untuk Pengembangan Sikap, Keterampilan Serta Pengawas Pengetahuan
Berdasarkan karakteristik dari matematika (misalnya Kline, 1968; Bell, 1978; National Research Council, 1989; dan Souviney, 1994), matematika mempunyai potensi yang besar untuk memberikan berbagai macam kemampuan(Keterampilan), dan sikap yang diperlukan oleh manusia agar ia bisa hidup secara cerdas (intelligent) dalam lingkungannya, dan agar bisa mengelola berbagai hal yang ada di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Kemampuan-kemampuan(Keterampilan) yang dapat diperoleh dari matematika antara lain ialah:
1.        kemampuan berhitung.
2.        kemampuan mengamati dan membayangkan bangunan-bangunan geometris yang ada di alam beserta dengan sifat-sifat keruangan (spatial properties) masing-masing
3.        kemampuan melakukan berbagai macam pengukuran, misalnya panjang, luas, volume, berat dan waktu
4.        kemampuan mengamati, mengorganisasi, mendeskripsi, menyajikan, dan menganalisis data
5.        kemampuan melakukan kuantifikasi terhadap berbagai variabel dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga hubungan antara variabel yang satu dan variabel yang lain dapat diketahui secara lebih eksak
6.        kemampuan mengamati pola atau struktur dari suatu situasi
7.        kemampuan untuk membedakan hal-hal yang relevan dan hal-hal yang tidak relevan pada suatu masalah 
8.         kemampuan membuat prediksi atau perkiraan tentang sesuatu hal berdasarkan data-data yang ada 
9.        kemampuan menalar secara logis, termasuk kemampuan mendeteksi adanya kontradiksi pada suatu penalaran atau tindakan.
10.    kemampuan berpikir dan bertindak secara konsisten
11.    kemampuan berpikir dan bertindak secara mandiri (independen) berdasarkan alasan yang dapat dipertanggung jawabkan
12.    kemampuan berpikir kreatif
13.    kemampuan memecahkan masalah dalam berbagai situasi.
Di samping dapat memberikan kemampuan-kemampuan, bidang studi matematika juga berguna untuk menanamkan atau memperkuat sikap-sikap tertentu. Sikap-sikap yang dapat ditumbuh kembangkan melalui bidang studi matematika antara lain ialah sikap teliti (cermat), sikap kritis, sikap efisien, sikap telaten, dan sikap atentif terhadap detil.
Memang, bidang-bidang studi yang lainpun ada kemungkinan juga mempunyai potensi untuk menumbuh kembangkan satu atau lebih kemampuan atau sikap di atas, akan tetapi potensi matematika untuk menumbuh kembangkan hal-hal tersebut relatif besar karena itu semua sesuai dengan karakteristik matematika. Karakteristik Pembelajaran Matematika yang dapat Mengaktualisasikan Potensi-potensi Tersebut di Atas.Potensi-potensi di atas akan teraktualisasikan (terimplementasi dalam kenyataan) atau tidak pada diri masing-masing siswa masih tergantung pada berbagai faktor, yaitu karakteristik pembelajaran matematika itu sendiri (baik materi maupun strategi pembelajarannya), faktor sosial-budaya yang ada dalam masyarakat dan beberapa faktor yang lain, termasuk faktor-faktor intrinsik yang ada dalam diri masing-masing siswa. Namun, di antara faktor-faktor itu, yang amat menentukan adalah faktor pembelajaran matematika itu sendiri, yang meliputi materi dan strategi pembelajaran.
karakteristik pembelajaran matematika yang dapat mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut di atas adalah sebagai berikut :
1. Dari segi materi pembelajaran :
a.  Materi pembelajaran harus meliputi jenis-jenis materi yang sedemikian rupa, sehingga kemampuan-kemampuan atau sikap-sikap yang akan ditumbuh kembangkan bisa tercakup (sebagai contoh, jika kemampuan memahami relasi-relasi keruangan akan dikembangkan, tentulah materi pembelajaran harus mencakup materi geometri yang sesuai dengan kemampuan yang bersangkutan).
b. Agar kemampuan-kemampuan dan sikap-sikap yang diperoleh siswa juga dapat diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari di luar bidang studi matematika itu sendiri, pada materi pembelajaran perlu juga dimasukkan berbagai contoh situasi nyata dari kehidupan sehari-hari yang relevan. Sebagai contoh, jika siswa diharapkan nantinya memiliki kemampuan menalar yang baik dalam kehidupannya sehari-hari, materi pembelajaran harus mencakup juga berbagai contoh kasus dari kehidupan sehari-hari untuk digunakan sebagai bahan latihan untuk penalaran.
c.   Materi pembelajaran tidak boleh terlalu padat, untuk memberikan kesempatan yang cukup bagi siswa untuk melakukan proses belajar secara aktif dan konstruktif.

2. Dari segi strategi pembelajaran
Berdasarkan tulisan-tulisan dari National Research Council (1989); NCTM (1989), Schiffer
dan Fosnot (1993), Souviney (1994), dan lain-lain, penulis berpendapat bahwa strategi
pembelajaran yang sesuai untuk mengaktualisasikan potensi-potensi matematika tersebut
diatas adalah strategi yang memenuhi kriteria (syarat-syarat ) berikut :
a.         Strategi tersebut harus memberikan kesempatan dan dorongan bagi siswa untuk secara aktif mengkonstruksi makna (meaning) dari materi-materi yang dipelajari, untuk mengusahakan agar proses pembelajaran betul-betul bermakna (meaningful) bagi para siswa yang bersangkutan, sehingga pengetahuan-pengetahuan, kemampuan-kemampuan, sikap-sikap, dan lain-lain yang dipelajari bisa terinternalisasi dengan baik (lihat, Schifter & Fosnot, 1993). Jika proses belajar aktif dan konstruktif tidak dilakukan, dapat dikhawatirkan bahwa pembelajaran hanya terjadi secara mekanistik (rote learning), sehingga pengetahuan-pengetahuan, kemampuan-kemampuan, sikap-sikap, dan lain-lain tidak terinternalisasi dengan baik, atau bahkan tidak terinternalisasi sama sekali.
b.        Strategi harus secara ekspilist dan intensif melatih dan mengembangkan kemampuan-kemampuan dan sikap-sikap seperti yang disebutkan di muka. Dalam kenyataan yang sering terjadi, pada bagian awal dari GBPP ada perumusan tujuan tentang kemampuan-kemampuan dan sikap-sikap yang diharapkan akan diperoleh; akan tetapi, dalam pelaksanaan dari kegiatan pembelajaran tidak ada usaha yang eksplisit untuk mengupayakan agar kemampuan-kemampuan dan sikap-sikap itu betul-betul bisa diperoleh, dengan akibat bahwa para siswa kemungkinan besar tidak bisa memperoleh atau mengembangkan kemampuan-kemampuan dan sikap-sikap tersebut.
c.         Strategi pembelajaran matematika tersebut harus banyak menggunakan contoh-contoh kejadian (kasus, fenomena) dari dunia nyata untuk dikupas atau dinalisis. Misalnya, untuk melatih siswa dalam memecahkan masalah-masalah dalam dunia nyata, contoh-contoh masalah yang berasal dari dunia sebaiknya juga digunakan. Dengan contoh-contoh kasus nyata tersebut, di samping proses pemecahan masalah menjadi aktual, siswa juga mengetahui konteks-konteks dalam dunia nyata yang bisa dianalisis secara matematis, atau bisa dikupas segi-segi matematisnya. Proses ini juga akan memperkuat motivasi siswa dalam mempelajari matematika, sebab siswa mengetahui relevansi matematika yang mereka pelajari dengan situasi kehidupan nyata yang mereka alami. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Prof. Hans Freudenthal (alm.) bahwa matematika yang dipelajari oleh siswa sedapat mungkin harus dekat atau relevan dengan kenyataan hidup yang dialami oleh para siswa sehari-hari (lihat misalnya, dalam de Lange, 1987; dan Heuvel-Panhuizen, 1996).
d.        Strategi tersebut perlu menunjukkan kegunaan matematika secara terintegrasi pada berbagai masalah, untuk mengusahakan agar siswa memahami bahwa dalam kehidupan nyata seringkali suatu masalah atau suatu gejala memuat berbagai aspek sehingga cabang matematika bisa dipakai bersama-sama untuk menganalisis masalah atau gejala tersebut.

2.3 Matematika Sebagai Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan matematika ada dua yaitu tujuan yang bersifat formal dan tujuan yang bersifat material.
1.    Tujuan yang Bersifat FORMAL
Pembelajaran matematika sekolah memiliki tujuan yang bersifat FORMAL. Dalam hal ini pembelajaran matematika sekolah yang diberikan kepada peserta didik dimaksudkan untuk menata nalar peserta didik serta membentuk kepribadiannya. (bila hal itu dipahami dan disepakati, jelas bahwa ketercapaiannya tidaklah hanya dilihat dari lulus/tidak lulus ujian).
Dalam tujuan formal ini terkandung aspek nilai—nilai yang terkait dengan kehidupan keseharian peserta didik kini dan kelak. Dalam hal nilai-nilai tersebut, pembelajaran matematika di masa lalu lebih ditekankan kepada pencapaian yang bersifat “by chance”, yang lebih cenderung tidak dirancang tetapi dengan sendirinya. Dewasa ini pembelajaran nilai-nilai yang terkandung dalam pelajaran matematika banyak dikaji melalui “Rencana Pelajaran” (lesson plan) yang secara sengaja disusun ke arah terbentuknya nilai-nilai tersebut pada diri siswa.
2.    Tujuan yang bersifat MATERIAL
Pembelajaran matematika memiliki tujuan yang bersifat MATERIAL. Dalam hal ini pembelajaran matematika sekolah yang diberikan kepada peserta didik dimaksudkan agar peserta didik dapat memecahkan masalah matematika dan dapat menerapkan matematika.
Pencapaian kedua tujuan tersebut dapat mengantar SDM yang akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang unggul dalam IPTEK dan IMTAK dan juga menjadi bangsa yang berbudaya yang sesuai dengan tujuan pendidikan Indonesia yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.





























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Polya(1985) mengajukan empat langkah fase penyelesaian masalah yaitu memahami masalah,merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah dan melakukan pengecekan kembalisemua langkah yang telah dikerjakan.
Dalam matematika hal seperti itu biasanya berupa pemecahan masalah yang didalamnya termuat soal cerita untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah hal
Berdasarkan karakteristik dari matematika (misalnya Kline, 1968; Bell, 1978; National Research Council, 1989; dan Souviney, 1994), matematika mempunyai potensi yang besar untuk memberikan berbagai macam kemampuan(Keterampilan), dan sikap yang diperlukan oleh manusia agar ia bisa hidup secara cerdas (intelligent) dalam lingkungannya, dan agar bisa mengelola berbagai hal yang ada di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Kemampuan-kemampuan(Keterampilan) yang dapat diperoleh dari matematika antara lain ialah:
1.         kemampuan berhitung.
2.        kemampuan mengamati dan membayangkan bangunan-bangunan geometris yang ada di alam beserta dengan sifat-sifat keruangan (spatial properties) masing-masing
3.        kemampuan melakukan berbagai macam pengukuran, misalnya panjang, luas, volume, berat dan waktu. DLL
Tujuan pendidikan matematika ada dua yaitu tujuan yang bersifat formal dan tujuan yang bersifat material. Pencapaian kedua tujuan tersebut dapat mengantar SDM yang akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang unggul dalam IPTEK dan IMTAK dan juga menjadi bangsa yang berbudaya yang sesuai dengan tujuan pendidikan Indonesia yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

3.2 Kritik dan Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.






3.3 Daftar Pustaka



Tidak ada komentar:

Posting Komentar